Kita Bukan Ali, Bukan Umar

Moch. Eksan DI MALAM TERAKHIR bulan Ramadhan 1438 H ini, banyak beredar cerita heroik para public figure dalam sejarah Islam dalam men...

Moch. Eksan
DI MALAM TERAKHIR bulan Ramadhan 1438 H ini, banyak beredar cerita heroik para public figure dalam sejarah Islam dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Ada nama Ali Bin Abi Tholib, Khalifah Keempat setelah Rasulullah SAW, dan juga Khalifah Umar Bin Abdil Aziz, Khalifah di Bani Umayyah. Kedua amirul mukminin ini dikenal dengan kesederhanaan dan kebersahajaannya sebagai top leader umat pada zamannya masing-masing. Sebuah cerita pengorbanan dan zuhud yang melegenda sampai sekarang. Bahkan seperti metos historis.

Dikisahkan, Ali setiap malam hari raya Idul Fitri, bersama dengan Siti Fatimah serta Hasan dan Husien, sibuk membagikan 3 sak gandum dan 2 sak kurma kepada fakir miskin. Ini dilakukan agar pada hari raya, semua fakir miskin bisa makan dengan cukup, tak ada yang kekurangan makan di hari yang membahagian tersebut.

Ali sama sekali tak berfikir untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Malahan, ia sendiri dan keluarganya rela makan roti dari gandum yang apek dan basi. Sedangkan, umat Islam pada umumnya, dan termasuk yang fakir miskin, makan makanan yang enak.

Kondisi inilah yang membuat Sahabat Ibnu Rofik prihatin dan melapor kepada Rasulullah SAW. Bahwa menantu, putri dan cucunya di hari raya, justru makan makanan yang basi. Rasulullah pun akhirnya tahu dan menyaksikan bahwa keluarganya berbahagia dengan makan makanan basi. Sedangkan, persedian makanan yang terbaik justru dibagikan kepada fakir miskin. Rasulullah menangis dan memeluk putra tercintanya, seraya berkata atas pengorbanannya demi fakir miskin yang dicintai dan disayanginya: "Surga untukmu, surga untukmu Anak".

Dikisahkan juga, Umar Bin Abdil Aziz pada malam hari raya, melihat putrinya yang tercinta menangis, lantaran tak punya baju baru. Sebagai ayah, hatinya sangat iba. Akhirnya, ia datang ke bendahara negara, dan hendak mau meminjam uang dengan jaminan uang upah di bulan depan.
Bendahara menyampaikan tak ada masalah, apalagi Umar adalah amirul mukminin. Ia cuma mengajukan satu pertanyaan.

"Apa Baginda bisa menjamin, usia Baginda bisa sampai di bulan depan?". Pernyataan ini menghentak kesadaran Umar. Dalam benaknya, usia itu rahasia Allah, dan tak ada satu pun orang yang bisa menjaminnya. Umur akhirnya, mengurungkan niatnya pinjam uang untuk membelikan baju putrinya yang tercinta.

Setibanya Umar di rumah. Putrinya yang tercinta mendekati Umar dengan menangis tersedu-sedu, sambil meminta maaf. "Ayah, saya mohon maaf ayah. Saya tak ingin ayah masuk neraka karena saya".

Umar dan putrinya yang tercinta, sama-sama menyadari bahwa tidak perlu memaksakan diri dengan berhutang untuk membeli baju baru. Baju yang sudah ada, kendati sudah lusuh sekalipun, tak akan mengurangi makna Idul Fitri sebagai hari raya bagi yang nilai ketaqwaannya bertambah.

Dua cerita pemimpin besar umat Islam di zaman klasik tersebut, sesuatu yang langka untuk zaman kontemporer ini. Dimana pemimpin umat Islam, lebih banyak mengedepankan kepentingan diri sendiri, serta seringkali mengorbankan yang lain demi prestise diri. Cerita Ali dan Umar bisa menjadi kritik sosial terhadap prilaku pemimpin yang hidup bermewah-mewah, dan acapkali mengesampingkan rakyatnya yang hidup papa dan miskin. Asal enak sendiri, tanpa peduli dengan rakyat yang di bawah.

Sudah barangtentu, kritik sosial ini tak bermaksud agar diri kita ini menjadi seperti Ali dan Umar, sebagaimana dalam cerita di atas. Tidak sama sekali. Akan tetapi, bagi umat Islam yang hidupnya lebih, untuk mau berbagi dengan sesama, serta hidup dengan wajar, dan tak berlebih-lebihan.
Mau berbagi dan hidup tak berlebihan, adalah pesan yang mendasar dari cerita Ali dan Umar. Sebab, konteks sosial yang melatari cerita, sudah berbeda sama sekali. Zaman sudah jauh berubah. Para pemimpin sudah silih berganti.

Jujur kita akui, kita ini bukan Ali, dan juga bukan pula Umar. Kita ini anak zaman yang menyaksikan, betapa pemimpin dimana pun di dunia ini, mendapat hak keuangan dan protokoler sebagai pejabat negara. Banyak hak istimewa yang dimiliki, dan fasilitas pendukung yang melakat. Cerita Ali dan Umar itu metos politik masa lalu, namun esensinya masih relevan untuk dibumikan saat ini. Hidup sederhana dan apa adanya, memiliki nilai yang tertinggi kapanpun dan dimanapun dalam sepanjang sejarah umat manusia.

*Moch. Eksan
**Anggota DPRD Jatim
***Pendiri Eksan Institute

COMMENTS

Nama

Aspirasi,9,BANGGAR,3,BAPERDA,9,Dapil 1,9,Dapil 10,3,Dapil 11,5,Dapil 2,4,Dapil 3,6,Dapil 4,5,Dapil 5,8,Dapil 6,13,Dapil 7,5,Dapil 8,1,Dapil 9,3,Dapil11,6,F-PAN,1,F-PD,3,F-PDIP,3,F-PG,1,F-PKB,4,F-PKS,17,F-PPP,2,Fraksi,2,Fraksi Gerindra,2,Fraksi NasDem-Hanura,3,Headline,628,Interupsi,240,Komisi A,18,Komisi B,31,Komisi C,26,Komisi D,19,Komisi E,71,Opini,20,Parlementaria,49,Pilgub,178,Profil,13,Video Parlemen Jatim,3,
ltr
item
Parlemen Jatim: Kita Bukan Ali, Bukan Umar
Kita Bukan Ali, Bukan Umar
https://1.bp.blogspot.com/-mmlLx5mg7Ew/WPdxiPUC6JI/AAAAAAAAAok/4nXwK45x6LcM1Lb_QnHdYhN5r_CHGvE5gCPcBGAYYCw/s320/eksan-konsumen.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-mmlLx5mg7Ew/WPdxiPUC6JI/AAAAAAAAAok/4nXwK45x6LcM1Lb_QnHdYhN5r_CHGvE5gCPcBGAYYCw/s72-c/eksan-konsumen.jpeg
Parlemen Jatim
http://www.parlemenjatim.com/2017/06/kita-bukan-ali-bukan-umar.html
http://www.parlemenjatim.com/
http://www.parlemenjatim.com/
http://www.parlemenjatim.com/2017/06/kita-bukan-ali-bukan-umar.html
true
8135650012022125352
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy